Suami, Kunci Sukses Anak Cemerlang

20121206_113403

Mursalat, Riyadh 2012

Beberapa hari yang lalu saya sangat tersentuh dengan tulisan Muhammad Fauzil Adhim “Ibu untuk Anak Kita”. Di sana memaparkan beberapa “real” kondisi seorang suami yang menjadi kunci bahagia istri sehingga kebahagiaan tersebut bertransformasi menjadi energi kasih sayang yang berlimpah ruah untuk menghadapi anak-anak sepanjang hari. Betul, dibalik kesuksesan laki-laki, pasti tidak terlepas dari kehebatan peran seorang wanita. Lalu buat apa kita mengkritisi peran suami dalam mendidik anak? Toh, wanita sudah luar biasa dan bahkan banyak yang rumah tangga berantakan tetapi anak-anak mereka tetap hebat dan berprestasi.

Kebahagiaan rumah tangga merupakan definisi yang sangat kompleks. Kita tidak bisa mengkategorikan rumah tangga ini bahagia, rumah tangga itu tidak bahagia hanya karena melihat sisi luar yang tampak dalam pandangan kita saja. Setiap pasangan, atau -lebih jauh lagi- setiap pribadi memiliki acuan tersendiri terhadap kata bahagia tersebut. Bahagia tidak hanya terejawantahkan dengan tawa, senyum sumringah atau hati yang berbunga-bunga.

Seorang suami tidak perlu mendefinisikan kebahagiaan istri dengan berbagai asumsi yang mereka buat sendiri. Seperti bahagia jika keluarga telah memiliki rumah dan mobil sendiri, bahagia ketika emas bergelimpangan sebagai simpanan, dan lain sebagainya. Pada sebagian orang yang sudah sangat mature dalam menghadapi kehidupan, kebahagian muncul dari dalam diri sehingga apapun yang terjadi di luar sana mereka mampu men-setting hati mereka untuk bahagia. Tentunya tidak semua orang bisa demikian, butuh kondisi luar untuk memunculkan kebahagiaan yang dirasakan. Kebahagian dan kondisi hati yang cenderung stabil akan memudahkan seorang istri dalam menjalani rutinitasnya sebagai “working mom” atau “full time mother”. Kedua profesi tersebut tentu tidak akan terlepas dari tugas melayani suami dan mengurus anak-anak sekalipun dengan banyak mengupah asisten rumah tangga.

Rasa bahagia yang dimiliki seorang ibu dapat bertransformasi menjadi energi keceriaan dalam mendidik dan melayani anak-anak. Walaupun sekali lagi banyak di luar sana ibu-ibu hebat yang walaupun banyak mendapatkan tekanan dari suami tetapi tetap mampu mendidik generasi-generasi penuh prestasi. Karena “ibu” sendiri bermakna kekuatan dan lautan kesabaran. Bukankah lebih indah lagi jika kita bayangkan dengan peran suami menciptakan kebahagiaan dihati istri menjadikan “rumahku surgaku” sebelum surga yang sebenarnya.

Berikut adalah kutipan tulisan yang saya maksud :

IBU UNTUK ANAK KITA oleh ustadz Fauzil Adhim Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik.
Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh. Uang yang berlimpah saja tidak cukup.
Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri.
Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan. Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita. Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu.
Di pesawat misalnya, kita punya waktu luang yang sangat banyak untuk membaca. Tetapi karena tidak kita sadari –dan akhirnya tidak kita manfaatkan dengan baik—beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.
 Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya. Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita.
Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.
Astaghfirullahal ‘adziim…. Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak ada dalam diri kita. Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita. Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya.
Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah? Tetapi… Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya.
Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita. Banyak suami-istri yang tidak punya waktu untuk ngobrol ringan berdua, tetapi sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. Seakan-akan mereka sedang menikmati kebersamaan, padahal yang kerapkali terjadi sesungguhnya mereka sedang menciptakan ke-sendirian bersama-sama.
Secara fisik mereka berdekatan, tetapi pikiran mereka sibuk sendiri-sendiri. Tentu saja bukan berarti tak ada tempat bagi suami istri untuk melihat tayangan bergizi, dari TV atau komputer (meski saya dan istri memilih tidak ada TV di rumah). Tetapi ketika suami-istri telah terbiasa menenggelamkan diri dengan tayangan TV untuk menghapus penat, pada akhirnya bisa terjadi ada satu titik ketika hati tak lagi saling merindu saat tak bertemu berminggu-minggu.
Ada pertemuan, tapi tak ada kehangatan. Ada perjumpaan, tapi tak ada kemesraan. Bahkan percintaan pun barangkali tanpa cinta, sebab untuk tetap bersemi, cinta memerlukan kesediaan untuk berbagi waktu dan perhatian. Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan. Tentang bagaimana menyemai cinta di rumah kita, silakan baca kembali Agar Cinta Bersemi Indah (Gema Insani Press, 2002).
Selebihnya, di atas cara-cara menyemai cinta, yang paling pokok adalah kesediaan kita untuk meluangkan waktu dan memberi perhatian. Tidak ada pendekatan yang efektif jika kita tak bersedia meluangkan waktu untuk melakukannya. Nah. Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, insya-Allah ia akan memiliki kesediaan un¬tuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami.
Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta? Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta.
Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya. Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja mem¬buat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak.
Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki energi yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak. Ya… ya… ya…, cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!
Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: